Jumat, 21 Agustus 2015

INDONESIA MUDA, INDONESIA KAYA BUDAYA

 Pada tanggal 19 Agustus 2015 diadakan seminar yang di selenggarakan oleh Bank Central Asia (BCA) dan nama dari acara tersebut adalah “Workshop BCA Short Movie Award 2015” yang bertempat di Aula gedung BKS Universitas Atmajaya, dimana workshop tersebut dilaksanakan dari mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan kurang lebih 12.30 WIB. Acara ini dilaksanakan untuk mendukung program BCA yang bernama BCA SHOVIA. Dimana acara tersebut berupa suatu lomba pembuatan short film bertema kebudayaan Indonesia yang diadakan bagi para mahasiswa untuk dapat mengasa ide-ide kreatif mengenai suatu kebudayaan di Indonesia dan kebudayaan tersebut ditunjukkan melalui pembuatan suatu film pendek yang berdurasi 3 sampai dengan 5 menit. Selain untuk mendukung acara BCA SHOVIA, acara ini juga di jadikan sebagai ajang  untuk mengenali, memahami dan menggali lebih dalam seperti apa itu film pendek yang sesungguhnya, kenapa film pendek? Karena walaupun durasi film yang begitu pendek, hanya 3-5 menit, tetapi dengan pendeknya film tersebut maka makna yang terdapat dalam film tersebut tidak bertele-tele atau terlalu dibuat basa basi, sehingga akan langsung to the point pada bagian permasalahan dan pada bagian penyampaian isi pesan yang mungkin akan lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat luas. Acara ini diselenggarakan oleh majalah mahasiswa komunikasi Universitas Atmajaya, yang lebih dikenal sebagai Alinea. Seperti dikatakan sebelumnya bahwa Alinea dan BCA SHOVIA membuat kerjasama untuk mengadakan workshop, maka didalam worksop ini pun terdapat dua pembicara yang akan membagikan pengetahuan mereka mengenai kebudayaan itu sendiri, apa itu film pendek serta tips dan cara yang baik untuk membuat film pendek menjadi lebih menarik. Narasumber yang datang pada worksop tersebut adalah Noorca M. Massardi dan Harris Nizam.

Sebelum pembicara memulai memberikan pengetahuan mengenai film, acara dimulai dengan sedikit pembicaraan yang dilakukan oleh pegawai BCA yaitu Bu Atik, disini beliau sebagai pegawai BCA memulai dengan menjelaskan program mengenai BCA SHOVIA, dimana program tersebut dibuat untuk mendapatkan ide-ide baru mengenenai kebudayaan Indonesia. Karena pada masa ini kaum muda sudah mulai melupakan kebudayaan asli Indonesia dan mulai beralih ke kebudayaan luar yang mereka anggap lebih “keren”. Padahal tanpa mereka ketahui, Indonesia terutama kebudayaannya mempunyai banyak sekali ragam serta jenisnya, dan sangat sayang untuk dilupakan begitu saja. Maka dari itu program BCA SHOVIA dibuat untuk mengasah ide-ide mahasiswa yang kreatif untuk mengenalkan kembali apa itu kebudayaan Indonesia yang begitu indah dan banyak ragam jenisnya yang sudah di lupakan oleh kebanyakan masyarakat, dan dengan film itu selain mengenalkan kebudayaan juga diharapkan ada suatu pesan yang dapat disampaikan kepada masyarakat mengenai kebudayaan itu sendiri. Kenapa program tersebut dibuat dengan format lomba pembuatan film? Karena pada masa ini film dianggap lebih mudah untuk menyalurkan dan memperkenalkan budaya-budaya tersebut ke masyarakat luas.

Setelah itu dilanjutkan dengan pembicara kita, yaitu Bapak Noorca M. Massardi. Beliau dikenal sebagai penyair, pengarang, penyunting, penulis lakon sandiwara, pemeran pria, sutradara, penulis scenario, juri festival film atau sinetron, penerima Anugrah Kebudayaan, juri lomba iklan, pewarta, serta pembawa acara televisi, kolumis, dan budayawan (Wikipedia). Beliau disini lebih menjelaskan mengenai apa itu kebudayaan. Beliau menyampaikan bahwa kebudayaan setiap daerah di Indonesia mempunyai perbedaan satu sama lain. Dan dengan berbagai kebudayaan tersebut kita diajak untuk mengamati satu persatu serta mengekspresikan kebudayaan tersebut dengan lebih baik. Beliau juga menjelaskan bahwa kebudayaan sesungguhnya tidak akan hilang, karena kebudayaan tersebut berada dalam suatu lingkungan sosial dan diteruskan dari generasi ke generasi dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga tidak akan ada kebudayaan yang hilang, hanya akan berkembang dengan tujuan untuk menyamai perkembangan jaman. Serta Indonesia pun tidak terlepas dari perubahan perkembangan kebudayaan tersebut salah satunya adalah Indonesia yang dahulu mempunyai kebudayaan yaitu memiliki kepercayaan terhadap nenek moyang, mulai berubah setelah datangnya pendatang-pendatang asing dari pesisir pantai yang membawakan berbagai macam agama yang sampai sekarang agama-agama tersebut diakui oleh negara Indonesia sendiri. Maka dari itu dapat dikatakan perubahan dalam kebudayaan itu pasti terjadi, dan tidak dapat dihindarkan, maka dari itu yang harus dilakukan adalah menerima kebudayaan tersebut, yang dianggap memiliki sifat positif, dan berusaha membiasakan diri dengan kebudayaan baru tersebut. Serta tidak lupa bapak Noorca menjelaskan mengenai bahwa kebudayaan sama dengan kejujuran. Hal tersebut dikatakan sama karena inti dari budaya itu sendiri adalah menciptakan manusia yang saling bersatu, menghormati satu sama lain dan menciptakan perdamaian, serta dapat dikatakan juga bahwwa kejujuran adalah salah satu dasar penting dalam pembuatan perdamaian, maka dari itu beliau menganggap bahwa kejujuran merupakan kebudayaan tertinggi.

Selain ada Bapak Noorca M. Massardi sebagai pembicara, ada juga Bapak Harris Nizam. Dimana beliau juga dikenal sebagai sutradara dan produser dan dikenal melalui film Surat Kecil Untuk Tuhan yang berhasil menjadi Indonesia's #1 Box Office pada tahun 2011. Film selanjutnya yang ia sutradarai adalah Hasduk Berpola, yang berhasil meraih penghargaan Piala Dewantara di ajang Apresiasi Film Indonesia 2013 (BCA Shovia). Bapak Harris disini lebih memberikan penjelasan mengenai film pendek serta tips untuk membuat film pendek lebih menarik. Pertama-tama beliau memberikan penjelasan mengenai apa saja yang perlu ada dalam film pendek, yaitu:
  1. Harus Kompleks, dimana didlaamnya harus terdapat pengenalan, permasalahan, penyelesaian, serta memperhatikan durasi, dimana durasi paling lama untuk film pendek adalah 50 menit.
  2. Harus Bervariasi, bervariasi dari mulai segi bertutur, sudut pandang, maupun ide. Terutama dalam hal ide, walaupun tidak ada yang baru di dunia ini, namun ide-ide tersebut haruslah di inovasikan menjadi sesuatu yang dapat dianggap baru dan pantas untuk diapresiasikan oleh masyarakat.
Tidak lupa beliau menyampaikan tips dalam membuat suatu film pendek yang menarik, yaitu:

  1. Cerita, pada bagian cerita haruslah kuat, karena ini film pendek, maka memerlukan cerita yang kuat, dan tidak berbasa basi agar dapat mudah dimengerti oleh masyarakat dalam jangka waktu yang pendek.
  2. Penokohan, tokoh yang paling baik dalam film pendek, jika dibandingan dengan program BCA SHOVIA yang memerlukan film pendek berdurasi 3 sampai 5 menit adalah maksimal 3 tokoh.
  3. Pemeran, dalam film pendek penonton haruslah dibuat percaya dengan tokoh yang dimaksudkan dengan menggunakan pemeran yang dapat dipercaya, contohnya saja ada peran Ibu dalam sebuah film, janganlah menggunakan anak berusia belasan tahun dan di make up tua agar terlihat seperti ibu-ibu, gunakan ibu-ibu sungguhan agar terlihat lebih nyata. Pemeran ini sangat penting karena pemeran yang baik akan menguatkan tokoh dan membuat cerita mengalir.
  4. Crew, dalam membuat cerita pendek diperlukan crew yang lengkap, selain dapat mempermudah perkerjaan, crew yag lengkap dapat membantu kita untuk mendiskusikan keputusan apa saja yang akan diambil dalam pembuatan film.
  5. Ending, film yang dianggap baik oleh bapal Harris adalah film yang mempunyai ending. Walaupun sesungguhnya tidak diharuskan tetapi sebaiknya ada karena akan menambah makna dan esensi terhadap film tersebut.
Dalam workshop tersebut selain pemberian pengetahuan mengenai kebudayaan maupun film pendek, juga terdapat sesi tanya jawab. Salah satu tanya jawab yang akan saya bahas disini adalah pertanyaan mengenai film pendek sebagai alternative dari film produksi berdana besar. Dimana terdapat pertanyaan yang berkesinambungan dengan tema tentang film pendek yang dijadikan alternative lain untuk para mahasiswa untuk menyampaikan ide dengan cara lebih mudah dan dana lebih sedikit dibandingan film yang sesungguhnya. Ada salah satu mahasiswa yang bertanya mengenai kualitas kamera yang digunakan dalam film pendek. Disini dia kurang lebih bertanya mengenai “Apakah kamera yang digunakan dalam pembuatan film pendek haruslah kamera mahal seperti di stasiun televisi atau bisakah hanya menggunakan kamera handphone biasa?”. Dan pertanyaan tersebut di jawab oleh Bapak Harris Nizam, beliau mengatakan bahwa, penggunaan kamera tersebut tidak lepas dari inti cerita tersebut, contohnya saja jika inti cerita dari film pendek tersebut mengenai suatu kecantikan, keindahan alam, pemandangan yang mengharuskan menampilkan visualisasi yang jernih dan indah disarankan untuk menggunakan kamera slr yang resolusinya lebih tinggi, tetapi jika cerita hanya menjelaskan tentang sesuatu yang misalnya mistis dan ceritanya hanya mengenai pemadangan yang biasa saja dapat digunakan kamera handphone biasa, jadi kamera tidak harus mahal tetapi harus bisa disesuaikan dengan alur cerita agar tidak merusak citra ataupun gambara cerita itu sendiri.

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa ternyata film pendek itu dapat dikatakan sebagai sarana kita untuk memulai membuat sesuatu yang kreatif tanpa harus menggunakan dana yang besar, karena dalam film pendek tidak terlalu memerlukan peralatan yang mahal, karena jikalau pesan maupun mansa film tersebut dapat tersampaikan kepada masyarakat hanya dengan menggunakan kamera ponsel, yang pada masa sekarang sudah banyak dimiliki, maka hal tersebut pun dapat digunakan sebagai sarana untuk membuat film pendek. Dan biasanya film pendek itu tidak memerlukan jalan cerita yang rumit, tetapi biasanya film pendek menggunakan cerita yang sederhana dan dapat diambil dari kejadian sehari-hari tetapi mempunyai makna dalam. Dan alasan mengapa film pendek dianggap lebih praktis dalam segi produksinya di karenakan film pendek memiliki ciri/karakteristik sendiri yang membuatnya berbeda dengan film cerita panjang, bukan karena sempit dalam pemaknaan atau pembuatannya lebih mudah serta anggaran yang minim saja . Tapi karena film pendek memberikan ruang gerak ekspresi yang lebih leluasa untuk para pemainnya (Wikipedia). Maka dari itu dapat dikatakan sekali lagi bahwa tidak diperlukan dana yang terlalu besar dalam membuat film pendek, karena inti utama dalam pembuatan film pendek bukanlah menghasilkan sesuatu yang mewah saja tetapi menghasilkan suatu alur cerita yang memiliki makna mendalam dan memiliki suatu pesan, dalam hal budaya disampaikan oleh bapak Noora dalam pembicarannya beliau menyampaikan bahwa film kebudayaan yang baik itu adalah film yang memiliki cerita yang simple, bisa mengenai kelahiran, kematian maupun kehidupan sehari-hari. Serta film kebudayaan yang baik adalah suatu film yang bisa menceritakan kehidupan kebudayaan itu sendiri, contohnya jika kita ingin membuat film mengenai kebudayaan Jawa, tentu saja kita harus melakukan penelitiaannya terlebih dahulu, penelitian tersebut tentu saja tidak harus mendatangi kota yang berada di pulau Jawa satu persatu karena tentu saja akan memakan biaya yang banyak, bisa dimulai dengan penelitian menggunakan internet yang dianggap lebih praktis dan dengan biaya yang berdana kecil.

Keuntungan lain dalam film pendek adalah selain menggunakan dana yang tidak begitu besar adalah dengan adanya perkembangan internet pada masa ini, sudah banyak cara yang dapat digunakan unntuk menyebarkan film pendek tersebut. Salah satu situs terkenal dalam penyebaran video via internet adalah situs Youtube. Situs youtube sendiri banyak digemari oleh masyarakat untuk melihat video-video pada masa ini karena mudah di gunakan. Dan film pendek pun dirasa cocok dengan fenomena youtube ini karena kita sebagai pem-produksi dapat menyebarkan atau dapat meng-upload  film pendek kita ke situs youtube dengan mudah dan tanpa biaya apapun. Mudah karena kita bisa setiap saat meng-upload film pendek kita tanpa batasan, batasan disini dimaksud kita dapat meng-upload setiap hari ataupun beberapa minggu sekali ataupun beberapa bulan sekali, dan dapat meng-upload dimana pun, asalkan tehubung dengan jaringan internet yang memadai. Serta hemat biaya karena untuk mendaftar sendiri ke situs youtube ini tidak dikenakan biaya apapun, kita hanya perlu mengikuti prosuder-prosedur kemanan account kita yang sudah disiapkan sendiri untuk situs youtube. Serta selain sebagai pem-produksi kita juga bisa menjadi konsumen, dimana kita mengonsumsi atau bisa melihat apa saja film pendek yang berada dalam situs tersebut. Situs youtube pun memberi kemudahan dalam mengakses setiap videonya dan tentu saja kita dapat mengakses video tersebut kapan pun dan dimana pun asalkan terhubung jaringan internet. Kualitas gambar video yang di sediakan oleh situs youtube sendiri adalah dimulai dari 240 sampai dengan 1080 yang dimana kualitas gambarnya termasuk tinggi. Selain itu youtube juga digunakan sebagai alat untuk para pembuat film pendek pemula untuk meng-observasi beragam jenis film pendek, karena video maupun film pendek yang terdapat dalam situs youtube tersebut beragam dan tentu saja mudah di akses dan di nikmati oleh masyarakat luas, terutama dengan masyarakat sekarang yang sudah sangat tergantung oleh internet, serta situs youtube yang juga sudah terkenal dikalangan masyarakat, maka situs youtube menjadi suatu alat yang sangat cocok untuk menyebarkan film pendek.

Begitulah sekilas penjelasan yang dapat saya sampaikan mengenai “Workshop BCA Short Movie Award 2015” yang diadakan di Universitas Atmajaya, dalam workshop tersebut saya mendapatkan pengetahuan mengenai apa arti kebudayaan secara umum dan juga saya mendapatkan pengetahuan mengenai film pendek. Dengan pengetahuan itu saya dapat memahami bahwa sebagai anak muda pun kita dapat membantu menyebarkan budaya kita ke berbagai belahan dunia, sehingga dunia dapat mengetahui keindahan dan keberagaman budaya Indonesia, dengan begitu tidak akan lagi terjadi budaya Indonesia di di “curi” oleh negara lain, apalagi dengan kemudahan teknologi jaman sekarang dan dengan perkembangannya internet, kita dapat dengan aktif menyumbangkan ide-ide kreatif kita untuk membantu dan membangun bangsa Indonesia ke arah yang lebih maju lagi.